Aspirasimediarakyat.com, Macao — Harapan Indonesia pada ajang Macau Open 2026 kini mengerucut pada satu pasangan muda ganda putra setelah rangkaian pertandingan semifinal menghadirkan kisah yang kontras, dari langkah yang terhenti akibat tekanan lawan dan kondisi fisik hingga munculnya secercah optimisme baru yang menjaga peluang Merah Putih tetap hidup di tengah persaingan ketat turnamen level BWF Super 300 tersebut.
Babak semifinal yang berlangsung di Macao East Asian Games Dome, Sabtu (20/6/2026), menjadi panggung yang memperlihatkan kerasnya kompetisi bulu tangkis internasional. Tiga wakil Indonesia turun bertanding dengan target yang sama, yakni mengamankan tiket menuju partai puncak.
Namun perjalanan tidak berjalan mulus. Ganda putri Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti harus mengubur ambisi menembus final setelah dikalahkan pasangan muda China, Chen Fan Shu Tian/Liu Jia Yue, dengan skor 13-21 dan 7-21.
Kekalahan tersebut cukup mengejutkan mengingat Tiwi/Fadia datang sebagai unggulan pertama sekaligus salah satu kandidat kuat peraih gelar. Pasangan ini sebelumnya menunjukkan konsistensi yang cukup baik sepanjang musim dan menjadi salah satu tumpuan regenerasi sektor ganda putri Indonesia.
Meski lawan mereka berada jauh di bawah dalam peringkat dunia, pasangan Chen/Liu bukanlah lawan yang bisa dipandang sebelah mata. Keduanya merupakan produk pembinaan muda China yang telah mengoleksi berbagai prestasi pada level junior dan mulai menunjukkan kualitasnya di level senior.
Sejak awal pertandingan, Tiwi/Fadia terlihat kesulitan keluar dari tekanan permainan cepat dan agresif yang diperagakan lawan. Pada gim pertama, pasangan Indonesia bahkan tidak pernah mampu menyamakan kedudukan setelah tertinggal sejak awal laga.
Kombinasi kecepatan Liu Jia Yue dan jangkauan luas Chen Fan Shu Tian membuat pola permainan Tiwi/Fadia sulit berkembang, sementara setiap celah yang muncul langsung dimanfaatkan pasangan China untuk mengendalikan ritme pertandingan.
“Di balik angka-angka yang terpampang di papan skor, pertandingan ini memperlihatkan bagaimana ketahanan fisik sering kali menjadi faktor penentu pada level kompetisi tertinggi, sebab strategi yang matang dan pengalaman yang panjang dapat kehilangan efektivitasnya apabila tubuh tidak lagi mampu mengeksekusi instruksi dengan optimal sepanjang pertandingan yang berlangsung dalam tempo tinggi.”
Masalah fisik mulai terlihat jelas pada gim kedua. Setelah tertinggal 4-11 saat interval, Tiwi meminta perawatan pada bagian kaki yang tampak mengalami gangguan sehingga memengaruhi mobilitasnya di lapangan.
Dalam momen tersebut sempat terdengar pertanyaan Tiwi kepada asisten pelatih ganda putri Indonesia, Nitya Krishinda Maheswari. “Kalau retire gak dapat poin ya mbak?” ucapnya di pinggir lapangan.
Setelah berdiskusi dengan wasit pertandingan, Nitya menyampaikan bahwa pasangan Indonesia tetap akan memperoleh poin ranking meski memutuskan mundur. Namun Tiwi/Fadia memilih tetap melanjutkan pertandingan hingga selesai.
“Langkahnya disesuain aja,” kata Nitya memberi arahan kepada anak asuhnya agar tetap mampu menyelesaikan pertandingan dengan kondisi yang ada.
Berbeda dengan sektor ganda putri, kabar menggembirakan datang dari pasangan muda ganda putra Ali Faathir Rayhan dan Devin Artha Wahyudi. Mereka tampil impresif saat menghadapi wakil Malaysia, Low Hang Yee dan Ng Eng Cheong.
Pasangan Indonesia tersebut menang meyakinkan dengan skor identik 21-12 dan 21-12. Dominasi yang diperlihatkan Faathir/Devin menunjukkan kematangan permainan yang terus berkembang meski usia mereka masih relatif muda.
Kemenangan itu mengantarkan mereka ke partai final dan menjadikan keduanya sebagai satu-satunya wakil Indonesia yang masih bertahan dalam perburuan gelar juara Macau Open 2026.
Di partai final nanti, Faathir/Devin akan menghadapi pasangan Korea Selatan, Jin Yong dan Lee Jong Min. Pasangan Korea tersebut sebelumnya menjadi sorotan setelah menghentikan langkah Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin pada babak sebelumnya.
Sementara itu, perjuangan tunggal putra Muhamad Yusuf juga harus terhenti pada babak semifinal setelah menghadapi perlawanan tangguh dari wakil Thailand, Kantaphon Wangcharoen.
Yusuf sebenarnya memperlihatkan daya juang yang patut diapresiasi. Pada gim pertama, ia sempat tertinggal 16-20 sebelum berhasil menyamakan kedudukan menjadi 20-20. Sayangnya, dua poin krusial berhasil diamankan Wangcharoen sehingga gim pertama berakhir 22-20 untuk wakil Thailand tersebut.
Memasuki gim kedua, tekanan yang diberikan lawan kembali membuat Yusuf kesulitan mengembangkan permainan terbaiknya. Serangan-serangan agresif Wangcharoen memaksa pebulu tangkis muda Indonesia itu menyerah dengan skor 15-21 dan menutup perjuangannya di semifinal.
Hasil semifinal Macau Open 2026 menjadi cermin perjalanan pembinaan bulu tangkis nasional yang terus bergerak di antara harapan dan tantangan; satu sektor mengalami hambatan akibat faktor fisik, sektor lain tersandung kualitas lawan yang lebih efektif, sementara pasangan muda Faathir/Devin hadir sebagai simbol bahwa regenerasi tetap berjalan dan bahwa prestasi internasional bukan sekadar persoalan bakat, melainkan juga ketahanan, pembinaan berkelanjutan, serta kemampuan menjaga konsistensi di tengah tekanan kompetisi global yang semakin ketat dan tanpa ruang untuk lengah sedikit pun.
Editor: Kalturo




















