Wisata  

“Rekor Wisata 2025 Melejit, Statistik Tinggi Uji Keadilan Pariwisata”

BPS mencatat kunjungan wisatawan 2025 mencapai rekor tertinggi pascapandemi, didorong lonjakan wisman dan wisnus. Namun di balik angka impresif, tantangan distribusi manfaat, belanja wisata, dan keadilan ekonomi daerah masih menjadi pekerjaan rumah serius sektor pariwisata nasional.

Aspirasimediarakyat.com — Lonjakan jumlah wisatawan sepanjang 2025 yang menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu mesin pemulihan ekonomi nasional menghadirkan paradoks baru ketika capaian statistik impresif masih berhadapan dengan tantangan struktural distribusi manfaat, kesiapan regulasi, serta keadilan ekonomi bagi daerah dan pelaku usaha lokal yang menopang industri ini dari lapisan paling bawah.

Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang 2025 menembus 15,39 juta orang, angka tertinggi sejak 2020 sekaligus berada dalam rentang target pemerintah sebesar 14,6 hingga 16 juta kunjungan. Capaian tersebut menandai pemulihan kuat sektor pariwisata pascapandemi yang sempat melumpuhkan mobilitas global.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa jumlah kunjungan wisman 2025 meningkat 10,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, capaian ini merupakan rekor tertinggi dalam enam tahun terakhir, mencerminkan kepercayaan internasional yang kembali tumbuh terhadap destinasi Indonesia.

Meski demikian, angka tersebut belum sepenuhnya melampaui kondisi sebelum pandemi Covid-19. Pada 2019, Indonesia masih mampu menarik 16,11 juta kunjungan wisman, sebuah capaian yang hingga kini masih menjadi tolok ukur pemulihan penuh sektor pariwisata nasional.

Data historis BPS menunjukkan dampak pandemi yang sangat tajam. Pada 2020, jumlah wisman terjun bebas menjadi 4,05 juta kunjungan dan terus merosot pada 2021 menjadi hanya 1,58 juta kunjungan. Pemulihan mulai terlihat pada 2022 dengan 5,89 juta wisman, meningkat signifikan menjadi 11,68 juta pada 2023 dan 13,89 juta pada 2024.

Baca Juga :  "Bali Tak Sepi, Data Berbicara di Tengah Isu, Cuaca, dan Persepsi"

Baca Juga :  "Libur Nataru Bali Terancam Sepi, Tiket Mahal dan Cuaca Ekstrem"

Baca Juga :  "Sragen Bangkit Jadi Magnet Wisata Rakyat Jawa Tengah"

Dari sisi asal negara, wisatawan mancanegara paling banyak datang dari Malaysia dengan kontribusi 17,3 persen, disusul Singapura 14,5 persen dan Australia 11 persen. Pintu masuk utama masih didominasi Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, terutama oleh wisatawan asal Australia.

Ateng menambahkan, sekitar 6,4 juta dari total kunjungan wisman 2025 berasal dari kawasan ASEAN atau setara 41,3 persen. Angka ini mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni meningkat 32,8 persen dibandingkan tahun 2024, menandakan kuatnya mobilitas regional Asia Tenggara.

Dari aspek belanja, rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan pada 2025 mencapai 1.267,07 dolar AS. Porsi terbesar dialokasikan untuk akomodasi sekitar 30 persen, diikuti makan dan minum hampir 20 persen, serta belanja dan cinderamata pada kisaran belasan persen.

Menariknya, meski jumlah kunjungan terbesar berasal dari kawasan ASEAN, pengeluaran tertinggi justru datang dari wisatawan asal Eropa. Fakta ini memperlihatkan kesenjangan nilai ekonomi antarsegmen pasar yang perlu direspons dengan strategi kebijakan berbasis kualitas, bukan sekadar kuantitas kunjungan.

Di balik euforia angka-angka tersebut, sektor pariwisata masih menyimpan ironi kebijakan ketika arus devisa yang besar belum sepenuhnya menjelma kesejahteraan merata, sementara infrastruktur, tenaga kerja, dan pelaku usaha kecil di daerah wisata masih berjibaku dengan biaya tinggi dan perlindungan hukum yang rapuh dalam rantai industri yang timpang.

“Ketimpangan manfaat pariwisata adalah wajah ketidakadilan struktural yang kerap disamarkan oleh statistik gemilang. Angka kunjungan yang tinggi tidak boleh menjadi tirai untuk menutupi praktik ekonomi yang menyedot keuntungan ke pusat dan meninggalkan daerah sebagai penonton.”

Di sisi lain, wisatawan nusantara menunjukkan performa yang jauh lebih masif. Sepanjang 2025, jumlah perjalanan wisnus mencapai 1,2 miliar perjalanan, meningkat 17,55 persen dibandingkan 2024 dan menjadi yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Ateng menyebut capaian ini sangat potensial dalam mendorong mobilisasi ekonomi domestik dan perkembangan wilayah tujuan. Bahkan, jumlah perjalanan wisnus 2025 telah melampaui jauh kondisi sebelum pandemi, ketika pada 2019 tercatat 722 juta perjalanan.

Selama masa pandemi, perjalanan wisnus turun menjadi 604 juta pada 2020 dan 613 juta pada 2021. Tren pemulihan kemudian berlanjut dengan 734 juta perjalanan pada 2022, meningkat menjadi 839 juta pada 2023, dan menembus 1 miliar perjalanan pada 2024.

Baca Juga :  "Wisata Air Kalimalang Diklaim Tanpa APBD, Publik Soroti Transparansi Proyek"

Baca Juga :  "Wisatawan Membeludak, Okupansi Hotel Jogja Tak Otomatis Merata"

Baca Juga :  "Pantai Kunti Ditutup Total, Negara Tegaskan Prioritas Konservasi Geopark"

BPS juga mencatat momen musiman berpengaruh besar terhadap lonjakan mobilitas. Pada Lebaran 2025, perjalanan ke luar kota mencapai 84,6 juta perjalanan, sementara pada periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026 tercatat 73,7 juta perjalanan.

Puncak arus Lebaran terjadi pada H+1 dengan 11,7 juta perjalanan, sedangkan puncak Nataru terjadi pada H+7 dengan 6,5 juta perjalanan. Pola ini menunjukkan karakteristik sosial masyarakat yang memengaruhi distribusi perjalanan nasional.

Sementara itu, jumlah wisatawan nasional yang bepergian ke luar negeri sepanjang 2025 mencapai 9,16 juta perjalanan, meningkat 2,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Tujuan utama perjalanan wisnas adalah Malaysia dengan porsi 29,25 persen, diikuti Arab Saudi 18,05 persen dan Singapura 13,41 persen. Lebih dari separuh wisnas Indonesia bepergian ke kawasan ASEAN, disusul Timur Tengah dan Asia lainnya.

Keseluruhan data ini memperlihatkan sektor pariwisata sebagai arena strategis yang bukan hanya soal angka kunjungan, tetapi tentang keberanian negara menata regulasi, distribusi manfaat, dan perlindungan ekonomi agar geliat perjalanan tidak sekadar menggerakkan statistik, melainkan benar-benar menghidupkan kesejahteraan rakyat di setiap simpul destinasi.


Banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *